Pages

Kamis, 20 Juni 2013

FEEL SO MOON !!! ~Sedikit ulasan tentang Uchuu Kyodai~


(Feel So Moon, OP Uchuu Kyodai by Unicorn)


“... mau dikopiin juga ga uchuu kyodai? Bodor juga loh.. ceritanya tentang perjalanan astronot gitu..” 
 Begitulah kira-kira kata-kata yang meluncur dari mulut seseorang tentang anime ini. :D 

Rasa suntuk penuh dengan kebosanan menggelayuti hariku, dan memburu dorama bodor menjadi tujuanku, yang siapa tau akan memberi penawar racun jenuh itu dan membuatku tertawa ceria.. ahhahaa..  Dan, alih-alih mendapat dorama, belakangan ini aku dikenalkan oleh beberapa orang disekitarku dengan berbagai genre anime yang ternyata setelah kupelototi berjam-jam merupakan anime yang berkategori bagus (menurut pendapatku). Uchuu Kyodai salah satunya.

Tiba saat softfile tercolok dan diterima (wkwkwk.. :p) “Saa, Uchuu Kyodai.. kiitaa..” rasa penasaran akan anime ini tak begitu menggelora, “ Nanti saja kuputar..”  rasa penasaran ku terletak hanya pada “kehidupan astronot” yang dimana menjadi seorang astronot adalah cita-citaku sewaktu kecil. Sungguh cita-cita yang sangat “tinggi” :D

Karena waktu luang begitu melimpah, kuputuskan untuk membuangnya dengan melahap anime ini.

Jreng-jreng~~

Episode pertama: “Waa, Feel So Moon!!!”  disamping kata bodor, kata pertama yang muncul dibenakku adalah “Waaaaa”, karena temanya sangat menyentuhku~ keluarga~ rivalitas antara kakak-adik. Garis besar anime ini berkisah tentang “brotherhood”, dimana dua anak laki-laki kakak beradik (Namba Mutta dan Namba Hibito) mempunyai impian dan cita-cita yang sama setelah mengalami kejadian aneh di sebuah hutan tempat mereka bermain. Mereka melihat UFO yang menyilaukan hilang ditelan sinar bulan purnama penuh.

“Aku akan pergi ke bulan, sudah kuputuskan!” dengan tatapan penuh keyakinan (dan berkaca-kaca ala anime), Hibito sang adik berkata seraya menatap sinar rembulan.  “Bagaimana denganmu?”
“... Kalau kau akan pergi ke bulan, aku akan pergi ke Mars!” jawab sang kakak. (Walau bagaimanapun seorang kakak adalah seorang yang harus berada satu langkah di depan si adik)
(Scene yang mengharukan.. >____<  dan aku akan pergi planetku sendiri, di galaksi yang lain.. ahahaha.. :p) 

Tersentuh melihat kedua kakak-adik ini, aku jadi teringat bagaimana aku dan kakakku sewaktu kecil. Aku selalu ingin bermain bersama kakak. Aku seorang perempuan dan terkadang hal itu membuatku menangis sedu sedan karena seringkali tersingkir dan terusir dari dunia kakakku, “dunia anak laki-laki”. Karena itulah, aku bersumpah dalam hati, bahwa kelak saat dewasa nanti, aku akan melangkah jauh lebih baik di depan kakak, dalam hal apapun. (ambisi yang luar biasa :’o ) Di sisi lain, aku punya seorang adik laki-laki, dan aku berharap, dia jauh melangkah atau bahkan berlari di depanku.. karena konstruksi sosial disekitarku telah berpendapat “Lalaki lalanang jagat, awewe heureut lengkah
Walau seorang perempuan, walau bagaimanapun, ego seorang kakak juga terkadang muncul yaa..
“ Aku harus jauh melangkah didepan kakakku sebelum adikku berlari mendahuluiku.” hahaha.. :D

Kisah ini berlanjut pada kedua kakak-beradik ini beranjak dewasa. Sang adik berhasil menggapai cita-citanya. Ia menjadi seorang astronot Jepang yang bekerja di NASA, sementara sang kakak baru saja kehilangan pekerjaan sebagai desingner otomotif.  Kegalauan mebuatnya terpuruk dan malu terhadap kebesaran nama adiknya sendiri.. “adiknya”. 

Hal yang kusukai lagiiii, Hibito tak merasa ingin unggul dari kakaknya, justru ia ingin mendorong dan mengingatkan kembali akan janji mereka di masa kecil (adik yang baik... >////<).  Hibito bahkan berinisiatif (untuk kakaknya) mengirimkan lamaran mengikuti selesksi JAXA (NASA-nya jepang.. :p) tanpa diketahui Mutta. 

Singkat cerita, Mutta mulai merajut asa kembali. Ia berjuang untuk mendapatkan posisi astronot di JAXA dengan berbagai test, juga “test-test” lainnya, seakan tak sabar, ia ingin berlari mengepakkan sayapnya terbang sampai ke Mars..(hhehehe..) 

Bicara tentang astronot, cita-cita terpendam semasa kecil itu mebuatku ingin kuliah dengan major astronomi, bahkan aku sempat mengikuti seleksi olimpiade astronomi tingkat kabupaten (wkwkwkw, tentu sajahh...  gagal.. ). Cita-cita ini tak benar-benar kukejar sepenuh hati, mengingat nilai fisika dan matematikaku begitu BAGUS. Berbeda dengan Mutta yang menjalani prosesnya,  Aku yang dulu mudah menyerah pada kerikil kecil itu begitu saja, tanpa menatap ke depan (BAKA!!! Hahahahh :v)

Aku baru nyemil  5 episode aja dan anime ini “stolen my heart successfully” bangett. Dapet “Top Rank” deh di playlist-ku, :D  (Arigatou naa, untuk softfile yang diberikan.. hhehee..)

Berbagai hal mungkin akan membuatmu merasa jauh dari cita-citamu, atau bahkan membuatmu merasa tak mungkin untuk menggapainya. Tapi, ingatlah ini... “apa yang kau inginkan itu?” 

Kisah yang manis, Kakak-adik, mempunyai impian bersama, sama-sama saling mendukung juga sama-sama bersaing.. Waaaaaa,, FEEL SO MOON!!!  /(*u*)\

~entah bersambung atau tidak, aku masih sangat bergantung pada mood untuk menuangkan kata-kata yang ingin kuungkap~

#written by me @cheiiborg 20062013 

Selasa, 28 Mei 2013

Sejarah Sunda: Asal-usul kata “Sunda”



Saya dilahirkan, dibesarkan, dan tinggal di tatar Sunda merasa sangat awam, ketika pembahasan mengenai Sunda menjadi “jejer” beberapa seminar kebudayaan nusantara atau artikel-artikel media cetak dan elektronik baik lokal maupun nasional. Teman, di antara kalian pasti ada yang mengalami hal yang sama, mengaku orang Sunda, namun tak tahu Sunda itu apa, sejarahnya seperti apa, bahkan beberapa kebudayaannya pun sangat terasa asing. Melalui artikel awam ini saya ingin berbagi sedikit wawasan mengenai sejarah Sunda yang saya sadur dari sumber mata kuliah Sejarah Sunda yang saya ikuti beberapa tahun yang lalu sewaktu saya masih menuntut ilmu di program studi Sastra Sunda Unpad. Otanoshimi~~ selamat menikmati~~  happy reading!

Asal-usul kata “Sunda”

Berdasarkan pendapat G.P Rouffaer, kata “Sunda” adalah kata asing yang berasal dari bahasa Hindu, yang berarti nama sebuah wilayah, sama seperti nama-nama wilayah di Nusantara lainnya. Dalam bahasa Sanskrit, sunda berasala dari akar kata sund  yang berarti bercahaya, terang. Sunda dalam bahasa Sanskrit juga merupakan salah satu nama Dewa Wisnu (yang memiliki 1000 nama), nama seorang “daitya” (raksasa), anak Nisunda (Nikumbha), saudara dari Upasunda, dan nama seekor  vanara” (monyet).  Dalam bahasa Kawi (Jawa Kuna), Sunda berarti air, tumpukan, pangkat, waspada. Sedangkan dalam bahasa Jawa, Sunda berarti tumpukan, rangkapan, “unda” yang berarti ngunda yang (adu jangkrik; menerbangkan layang-layang), juga tunda yang berarti tumpukan atau susun.   Dalam bahasa Sunda sendirim Sunda berasal dari kata sa-unda, tunda= menyimpan, Sunda= tempat penyimpanan; sonda= unggul, bangga, bahagia; sundara (b. Sanskrit)= rupawan, cantik, Sundara, nama Kama, dewa asmara yang sangat rupawan, juga Sundari yang berarti perempuan cantik.

Pendapat lain dikemukaan oleh J. Rigg yang menyatakan bahwa kata “Sunda” lebih tepatnya berasal dari kata sa-tunda yang berarti gudang penyimpanan. Hal ini terbukti dengan adanya sebuah pulau yang bernama Pulau Tunda di luar Teluk Banten yang dahulu digunakan sebagai tempat mengumpulkan barang dagangan berupa rempah-rempah yang berasal dari kepulauan Maluku. 

(bersambung.. :D)

Rabu, 17 Oktober 2012

Sir Arthur Conan Doyle ~ The Legend ~


Sang Bujangga Detektif

Lamun urang cumarita genre misteri, utamana carita-carita detektif, pasti wangwangan urang langsung ka salah sahiji tokoh detektif legendaris – Sherlock Holmes, oge jeung nu nyipta ieu tokoh liwat kecap-kecap nu ditulis ku anjeunna, Arthur Conan Doyle. 

Arthur Conan Doyle dibabarkeun ping 22 Mei 1859, di Edinburgh, Skotlandia. Awitna mah dokter pacabakanana teh. Anjeunna nyuprih elmu dina widang kedokteran di Universitas Edinburgh (1876-1881). Sanggeus lulus, Doyle kungsi jadi dokter di hiji kapal nu balayar ka South Africa, nu ahirna anjeunna matuh jeung muka prakter di Plymouth taun 1882. 

Salila muka praktek di Plymouth, teu pati rame teuing dianjangan ku pasen-pasen. Ku kituna loba waktu nu ku anjeunna dimangpaatkeun keur nulis, minangga kalangenanana. Teu lila, Doyle hijrah deui ka Porstmouth, anjeunna beuki produktif nulis nepi ka medal mahakarya nu munggaran, A Study in Scarlet, nu terbit taun 1887. Dina ieu karya tea Sherlock Holmes mimiti diwanohkeun ka dunya.

Sedeng dina taun 1890, Doyle mangkat deui ka Vienna, tujuanana mah keur nyuprih kaelmuan spesialis mata. Anjeunna mulang deui ka London, Inggris, taun 1891, nu terus muka praktek anyar, dokter spesialis mata. Tapi nya kitu deui, praktek dokter spesialis teh langka aya pasenna. Ku kituna waktu keur kalangenanana nulis carita teh beuki loba jatahna. Dina ieu taun oge Doyle geus ngarasa tokoh Sherlock Holmes teh meh dipaehkeun wae, alatan manehna hayang nulis carita nu leuwih ngeusi tur serieus.

Dina taun 1893, Holmes jeung musuhna Profesor Moriarty dicaritakeun dina carita The Final Problem, terjun ka curug. Eta hal ngahudang reaksi negatif ti masarakat nu resep kana carita-carita anjeunna, nu matak Doyle ngalanjutkeun deui lalakon Sang Detektif ku jalan Holmes dicaritakeun ngan api-api nandangan pati. Hasilna, nepi ka kiwari, tokoh Sherlock Holmes ngalalakon dina 4 novel jeung  56 carpon nu kuanjeun dikarang, jeung deui teuing sababaraha kali deui nu ku bujangga lain dianggit kana carita, serial tv, jeung deui film-film nu sukses tayang di sakuliah dunya.

Salian ti carita detektip, anjeunna oge nulis karya-karya sejenna nu lain ti genre novel atawa carpon. Harita jaman Perang Boer di Afrika lalakon Inggris kacida dipiinggis ku masarakat dunya. Anjeunna nulis pamflet  nu judulna The War in South Africa; It’s Cause and Conduct (Perang di Afrika Selatan; Sabab Musababna), oge karya nu dibukukeun judulna The Great Boer War, minangka pamadeganana salaku warga Inggris. Karya nu ngandung propaganda sapertos kieu nu ahirna Doyle kasinugrahan gelar “Knight” nu matak anjeuna dipiwanoh ku urang sararea ku asma Sir Arthur Conan Doyle.

Sir Arthur Conan Doyle mulang ka Mantenna ping 7 Juli 1930, dikurebkeun di Minstead, New Forest, Hampshire. Patungna diadegkeun di Crowborough Cross, di dayeuhna pisan. Sedeng di Picardy Place, Edinburgh, diadegkeun patung Sherlock Holmes, teu jauh ti padumukan asal Sang Bujangga digelarkeun ka alam dunya. 

~bersambung~

(catatan terjemahan sebagai bentuk kekaguman saya pada beliau sebagai penikmat sastra... sumber: majalah Advance vol. 12/2007)

Minggu, 04 Desember 2011

Dongeng Sato (Fabel): Entog Endog Emas

Entog Endog Emas
Kacaritakeun aya saurang patani nu kacida malaratna cicing di hiji saung gubuk nu geus reyot. Mang Julin patani ngaranna teh. Hirup sapopoena ngan dibaturan ku sakadang entog, hiji-hijina. Mang Julin kacida nyaaheunana ka eta sakadang entog teh, bubuhan manehna mah teu boga dulur-baraya, malih garwa mah. 

Hiji poe manehna indit ka sawah, isuk-isuk pisan manehna geus indit, kabeneran  dititah ku juragan Lurah pikeun ngabinihan sawahna. Ari digawena mah kapake pisan ku Juragan Lurah teh, kusabab Mang Julin segut pisan kana gawe nanaon oge. Ari entogna dikencarkeun di buruan gubuk teh, tara aya hariwangan. 

Balik ti sawah wanci sariak layung, Mang Julin kacida laparna. Manehna ngadeuheus ka Pangeran, “Duh, Gusti... mun paparin abdi beunghar, meureun dahar nanaon oge bisa.. “ . Mang Julin teu dahar ngan karo uyah. Sanggeus wareg mah manehna tuluy ngampihan entog di juru imah. 

Isuk-isuk keneh Mang Julin kahudangkeun ku kingkilaban nu ayana ti juru imah. Panasaran, manehna tuluy cahya gugurilapan teh disampeurkeun. Manehna teu nyangka yen cahya nu kacida serabna teh tina kandang entog, singhoreng teh entogna endongan, endogna endog emas. Mang Julin peupeureudeuyan, nyagap endog teh. Manehna kacida bungahna, eta endog emas, emas murni. “Bisa dijual ieu mah, ...“ gerentesna. 

Poe kadua, kitu deui, entogna ngaluarkeun endog emas deui hiji. Kitu saban poe, sakadang entog teh endogan endog emas hiji. Nya puguh Mang Julin teh jadi beunghar. Manehna geus boga sawah sorangan, imah gedong, balong, ternak entog, jeung harta lianna nu mucekil. Entog teh nyaan mawa rejeki keur Mang Julin.  

Hiji poe, Mang Julin ngarasa cape mun kudu unggal poe ngadatangan kandang entog pikeun mawa endog emas pira hiji teh. Mang Julin sasadiaan bedog keur ngabeleh entog ngarah emasna kabeh kaluar, jadi manehna teu kudu mawaan unggal poe ka kandang entog. Ari geus dibeleh entog teh, teu kaciri emas-emasna acan. Malahan entog teh paeh. Mang Julin teu bisa ngabebenah hartana. Manehna jadi miskin deui sabab unggal poe hartana beak dipake kabutuhan sapopoena.

diceritakan kembali dari dongeng berbahasa Inggris “Golden Eggs” (Look Ahead An English Course for Senior High School Student Year XII, Th, M. Sudarwati dan Eudia Grace.  Penerbit Erlangga)

Jumat, 02 Desember 2011

Ramayana in English


THE CAPTURE OF SITA
(a story from the Ramayana)

 The Ramayana is a famous book from India. It’s the tale of a young prince called Rama who was banished from his father’s kingdom by his jealous step-mother. His beautiful wife, Sita, and his brave-brother the three of them spent many years in wild forests. They lived a very hard and simple life.
One day a dreadful thing happened. The beautiful Sita was taken away by the terrible demon-king, Ravana.  Ravana took Sita to his palace in his island kingdom, Lanka.
The monkey-king and his solidiers help Rama and Lakshamana to destroy Ravana’s army. They also killed the demon-king. Rama and Sita were happy to be together again. With the faithful Lakshamana they returned to their home. The period of their banishment was over.
This story tells how Ravana captured Sita.

THE MEETING WITH SURPANAK
 Rama, Sita and Lakshamana made their new home in the forests of Dandaka. They spent the days quietly living the simple life or hermits. The beauty of nature was a joy to them and they ate the food which was in the forests.
One morning, in early winter, a strange visitor come to their hut. It was a Rakshasi, a giantess, called Surpanakha. She had seen Rama near the river bank and liked his handsome appearance. At one she wanted to have him as her husband. She changed herself into a lovely maiden and walked to wards the hut where the three people lived. The two young princes were sitting outside their hut and talking about the adventures they had together. Boldly the giantess come to Rama and said to him.
Who are you, young man? You wear hermit’s clothes but you don’t look like one. What are you doing in Dandaka forest? Do you know that you are in the country of the rakhsasas, the mighty giants who are maters of this forest?
Rama was surprised to see the young woman, who had come so unexpectedly and spoken so boldly to him. But he answered calmly. “ I am the eldest son of king Dasaratha. My name is Rama and this is my brother Lakshamana. My wife, Sita, is inside the hut. We come to this forest to spend our time quietly until we can go back to our own country. Now will you please tell me who you are, yong lady?”
Proudly Surpanakha answered, “ I am Princess Surpanakha, sister of the mighty Ravana, who is king of all the giants and demons. Listen to me, my handsome prince. As soon as I saw you I know you were right to be my husband. Come with me and my brother will protect you. This is a dangerous place.”
Rama shook his head and said, “ Princess, I can’t come with you, as I said, I am married already. Here is my wife.” At that moment Sita come out of the hut and Rama took her by the hand.
Surpanakha flew into a jealous rage.
“ What! You prefer this pale and sickly creature above me! Leave her and marry me instead!” She cried.
Once again Rama shook his head. The giantess who always had what she wanted became more angry.
“ This little creature stops me from having this handsome prince for a husband.” She thought. “ I’ll kill her now.”
She then changed into her real shape. An ugly creature with wild uncombed red hair and bloodshot eyes stood in front of them. With a screech she jumped upon the young princess. Just in time Rama pulled. Sita away from the monster’s daws.
“ Fight her off, Lakshamana!” rama shouted and pulled his wife back into the safety of their hut.
Lakshamana’s sword shot out and cut off Surpanakha’s nose and ears. With a howl of pain the rakshasi ran away. Many of the giants heard her shriek and they came running to go help her. They attacked Rama and Lakshamana, but the two brave princes killed them all with their swords and arrows.

to be continue.....

(ini hanya kutipan, saya belum menerjemahkannya, thank's to Azmah Shafwah Q.L. )